Kita tentu sering mendengar pandangan bahwa ibu rumah tangga adalah kewajiban bagi setiap perempuan yang berkeluarga. Hingga kini, masih banyak orang yang meremehkan profesi ini. Namun, di mata Ine Arini, menjadi ibu rumah tangga adalah pekerjaan yang luar biasa. BRDC berkesempatan berbincang dengannya di sela-sela kesibukannya di kampus.

Menjadi seorang ibu rumah tangga, dosen seni tari, juga seniman adalah aktivitas sehari-hari seorang Ine Arini. Ibu beranak tiga ini menekuni dunia seni tari sejak usia sembilan tahun hingga kini usianya menginjak 62 tahun. Selain mengajar tari di STSI, ia juga menjadi instruktur senam sehat bagi ibu-ibu rumah tangga di lingkungan rumahnya setiap hari Minggu pagi. Ine memandang bahwa persoalan ibu-ibu rumah tangga itu bukan hal yang mudah dihadapi. Mereka harus mengurus anak, mengurus rumah tangga bersama suami, ditambah lagi persoalan ekonomi. “Saya ingin memacu hati mereka supaya senang, bahagia, punya semangat hidup.” Ia tidak mempersoalkan apakah mereka melakukan gerakannya dengan benar atau tidak, ia hanya ingin para ibu tergerak hatinya ketika mendengar musik. Meski gerakannya sederhana dan temponya diperlambat, banyak yang mengeluhkan usia yang sudah tua. Itu yang membuat tidak sehat, menurut Ine. Ia mengaku sering lupa pada usianya sendiri yang sudah tergolong lansia. Melalui senam sehat itulah ia ingin mengajarkan kepada para ibu bahwa menjadi sehat itu mudah dan dimulai dari pikiran yang berbahagia, ikhlas dan senang dalam melakukan segala sesuatunya.

Ine juga merupakan direktur dari kelompok Wayang Motekar; sebuah seni pertunjukan wayang modern yang dikreasikan oleh sang suami, Herry Dim. Ia selalu hadir dalam setiap latihan dan pertunjukan mereka sebagai penguat hati anak-anak, yaitu para seniman muda yang terlibat dalam kelompok ini. Ketiga anak laki-lakinya juga ikut terlibat dalam setiap pertunjukan. Bahkan menantu, cucu, dan pacar anak-anaknya pun selalu hadir.

Keluarga yang satu ini memang terbilang unik. Siapapun dari anggota keluarga ini yang membuat sebuah karya seni tertentu atau tampil dalam sebuah pertunjukan, pasti satu keluarga mendukung dengan terlibat dalam proses pembuatan karyanya atau sekadar hadir dalam pertunjukan. Ine mengaku bahwa mereka sama-sama sibuk, namun tetap saling mendukung. Jika anaknya yang sedang sibuk, maka Ine akan mengikuti kesibukan sang anak. Terkadang, ia juga terlibat dalam aktivitas anak-anaknya. Dari situlah ia bisa memantau dan menilai apakah kegiatan dan lingkungan anak-anaknya baik atau tidak.

Dari sosok ayah dan ibunya, Ine belajar bagaimana menjadi orangtua. Kekurangan orangtuanya dulu ia ralat dengan sikapnya dalam mendidik anak-anaknya sekarang. Menurutnya, seorang ibu harus lebih aktif dalam memantau aktivitas anak-anaknya dan membuka pintu hati dengan cara menjalin komunikasi dengan anak-anaknya agar mereka juga mau terbuka tanpa diminta. 

Ine juga tidak setuju dengan pandangan bahwa pekerjaan rumah tangga adalah pekerjaan perempuan. Laki-laki harus ikut terlibat dalam mengurus rumah tangga, laki-laki juga harus bisa mengurus anak. Sebuah rumah tangga akan kokoh jika laki-lakinya juga terlibat di dalamnya. Berumah tangga tidak membuat perempuan menjadi tidak lebih berarti. Perempuan itu hamil dan melahirkan, luar biasa perkasa. Dan sebagai kaum perempuan kita harus bangga. Laki-laki akan menjadi seseorang karena dukungan istrinya. Suaminya hebat, istrinya tentu hebat. (TIS)

Tags : #Ine Arini , #Dosen STSI , #Seniman Tari Bandung Ine Arini , #Ine Arini Seniman Tari , #Ine Arini Master of Traditional Dance, #Ine Arini Wayang Motekar , #Ine Arini Seniman Bandung , #seniman tari Bandung
Belum ada komentar, mau menjadi yang pertama? Silahkan isi komentar Anda.
    SOCIAL MENU
    SEARCH
HOT PICK
    • Harris Hotel
      4 Star Hotel
      Alamat : Jl. Peta No. 241
      Telepon : (022)6128600