Salah satu kenangan berharga yang tak mungkin dihapuskan begitu saja adalah memori cantik tentang kisah masa kecil. Berjuta kebahagiaan ditemukan di sana. Bila generasi masa kini telah diracuni permainan elektronik nan canggih, maka sebagian besar generasi tahun 90an masih akrab dengan jenis-jenis permainan murah meriah yang dijajakan di pinggir jalan.

Saat ini, para pedagang mainan masih bisa ditemukan di tepian sekolah, atau bertengger apik di beberapa pasar tradisional. Saya, menjadi salah seorang saksi dari keberlangsungan mainan tersebut. Tak ada video game, ataupun smartphone yang saya genggam kala itu. Hanya dengan beberapa lembar boneka kertas dan kuwuk bisa menerbitkan sebuah senyum di bibir saya.

Tak ada salahnya bila kita bernostalgia dalam beberapa rangkaian kata, menikmati kisah-kisah permainan masa lalu yang dapat membawamu kembali ke dimensi waktu indah itu.

Boneka Kertas (Bepe-bepean)

Satu hal yang paling menyenangkan bagi anak perempuan di masa kecilnya adalah memasang-masangkan baju pada penampakan boneka yang cantik. Meskipun mainan ini tak bertaraf seperti Barbie yang berbentuk tiga dimensi, namun boneka kertas pantas menjadi teman sehari-hari kala itu.

Wajah khas komik Jepang yang cantik rupawan, dengan bola mata bekaca-kaca, tak lupa dengan gaun-gaun mengagumkan ini tak akan pernah membuatmu bosan. Imajinasi berkembang. Permainan yang juga tenar dijuluki bepe-bepean ini merangsang daya khayalmu, tak hanya sekedar menjadi seorang pengarah gaya bagi si cantik, namun juga membuatmu mengarang kisah yang menghiasi kehidupan sang boneka kertas.

Bekel alias Beklen

Seperti sepasang muda-mudi yang sulit dipisahkan, bola bekel dan kuwuk pun begitu adanya. Biasanya, sang penjaja selalu menempatkannya bersebelahan dalam area dagangan. Bola berwarna-warni, yang bahkan berwarna transparan ini begitu mengundang perhatian. Kuwuk, yang berasal dari cangkang binatang laut, tersedia dalam bentuk yang sangat beragam.

Cara memainkannya sangatlah mudah. Cukup menyelaraskan lemparan bola karet, dan selama waktu pantulan tersebut, sang pemain harus sudah mengambil biji kuwuk tergantung tingkat kesusahannya. Pertama-tama, biji kuwuk yang diambil masih satu persatu. Lama kelamaan, sang pemain harus mengambil biji berukuran satu buku jari ini dalam jumlah yang makin banyak.

Seperti menghadapi musuh dalam video game, ternyata permainan tradisional seperti ini pun memiliki level-level tertentu yang mengundang semangat.

Petak Umpet

Dalam bahasa Sunda, petak umpet ini seringkali dijuluki sebagai ucing-ucingan. Biasanya, permainan yang mengundang keringat tersebut membutuhkan banyak pemain di dalamnya. Sebelum memulai aksi, kelompok bermain ini melakukan hompimpa untuk mencari siapakah yang menjadi ucing. Peran ucing alias kucing di sini adalah menjadi sang pengejar bagi “mangsa”nya yang tengah bersembunyi.

Salah satu hal yang menyenangkan dalam permainan ini, tak hanya mencari ide di waktu sesempit mungkin, namun kesehatan fisik serta sifat kekeluargaan pun dipupuk secara perlahan. Para pemain dipaksa untuk berlari kesana kemari, menggerakkan seluruh anggota tubuhnya dengan cara yang menyenangkan. Selain itu, saling bantu membantu antara pemain pun menjadi modal untuk sebuah nilai kesetiakawanan. Berguna bukan?

Ular Naga

“Ular naga panjangnya, bukan kepalang,” lirik ini mungkin masih membekas dalam ingatan terdalammu di masa kanak-kanak. Ya, rangkaian kalimat ini biasa dilantunkan sembari melakukan sebuah permainan yang membuatmu tampak seperti ular naga.

Dua orang saling menggenggam tangan dan membentuknya menyerupai sebuah gerbang, sementara sisanya berjejer rapi dan memegang bahu teman di depannya. Jajaran tersebut berjalan mengitari dan memasuki gerbang sesuai lagu “Ular Naga” yang dinyanyikan riang.

Begitu lagu habis, maka pemain yang berada di tengah-tengah gerbang akan “ditangkap”. Salah satu hal yang lucu terjadi setelah ada salah satu korban yang termakan gerbang. Kedua gerbang ini berdebat dengan sang “induk” yang berdiri di barisan paling depan, perihal pemain yang telah tertangkap oleh gerbang. Biasanya perdebatan ini berlangsung mengundang tawa teman-temannya, hingga akhirnya sang “korban” memilih untuk berdiri di belakang salah satu gerbang.

Permainan tersebut diulang kembali hingga hanya seorang “induk” yang tersisa di barisan “Ular Naga” tersebut. Sebuah permainan sederhana, tetapi mengajarkan para pemainnya untuk berbicara dan berdiskusi dengan cara yang baik, tidak dengan adu kekuatan saja.

(To Be Continued)

Tags : Bandung Review,
  • santika Ditulis pada : 08 February 12 15:37:03
    ingen jaman dulu suka maen Bepe hihiii.. rumahnya dr kardus odol trus mobilnya dr bungkus roko.. hahahhhaha kocak
  • kikirizki Ditulis pada : 08 February 12 15:25:54
    sekarang mah maenan kaya gini kalau sama PS euy..Lumayan nih buat nostalgia sedikit .. :D
  • daniramdani Ditulis pada : 08 February 12 15:03:09
    jadi teringat ketika sd hehehehe maen petak umpet (ucing sumput)

    SOCIAL MENU
    SEARCH
HOT PICK
    • Harris Hotel
      4 Star Hotel
      Alamat : Jl. Peta No. 241
      Telepon : (022)6128600