Kalau dilihat pada peta, letaknya berada di selatan pulau Jawa, tepatnya provinsi Jawa Tengah. Berbatasan langsung dengan Samudra Hindia membuat kota ini memiliki pantai sebagai salah satu daya tarik wisatanya. Tidak jauh dari tepi pantai, sebuah pulau terbentang gagah, mencegah ombak ganas laut selatan menghampiri kota ini. Pulau itu bernama Nusakambangan, atau sering juga disebut sebagai Alcatraz-nya Indonesia.

Sudah bisa menebak kota apa yang saya gambarkan sekilas di atas? Ya, Cilacap, kota kecil dengan potensi wisata yang beragam. Sebagai kota di wilayah pesisir, potensi terbesarnya adalah wisata bahari, lengkap dengan kuliner seafood yang bisa dinikmati langsung di pinggir pantai.

Berbeda dengan pasir pantai yang umumnya berwarna putih, pasir di pantai Teluk Penyu justru berwarna hitam. Kalau didekatkan pada magnet, pasir-pasir tersebut akan menempel karena itu adalah pasir besi. Kawasan ini memang menjadi salah satu tempat pasir besi. Pantai ini cocok menjadi tempat bermain karena ombak yang mencapai bibir pantai sudah terlebih dahulu melewati pemecah ombak sehingga tidak terlalu deras. Namun, bermain di pinggir pantai dilarang dilakukan setelah pukul 18.00 karena air laut biasanya akan pasang.

Masih di kawasan pantai, kita juga bisa menyewa perahu dari nelayan setempat untuk berlayar sedikit ke tengah laut dan mendekati pulau Nusakambangan. Untuk menikmati perjalanan berperahu ini, biayanya sekitar Rp 13.000,00 per orang sebelum harga BBM naik. Usahakan melakukan tawar-menawar dengan sang nelayan agar mendapat harga yang masih dalam batas wajar.

Jika malam tiba, pantai Teluk Penyu akan berubah menjadi tempat wisata kuliner yang mengasyikkan. Warung-warung seafood berderet rapi, siap memanjakan perut. Aneka lauk dengan kesegaran terjamin bisa kita pilih sendiri, baik porsi maupun ukurannya. Deburan ombak serta angin sepoi khas pantai akan menemani santap malam.

Tidak jauh dari kawasan wisata pantai Teluk Penyu, sebuah benteng peninggalan kolonial Belanda dapat menjadi alternatif wisata sejarah. Dibangun pada 1861, benteng yang bernama Benteng Pendhem ini dulunya berfungsi sebagai tempat berlindung pasukan Belanda dari musuh-musuhnya. Kata ‘pendhem’ sendiri berasal dari kata ‘pendam’ alias terpendam. Konon jika dilihat dari udara, kawasan ini tidak terlihat seperti benteng, melainkan hanya padang rumput biasa sehingga musuh tidak akan menemukan tempat persembunyian Belanda. Meski bagian depan benteng ini sudah banyak mengalami pemugaran, beberapa bagian masih tampak asli termasuk penjara-penjara kecil bagi tahanan.

Mencapai kota Cilacap membutuhkan waktu sekitar 6-7 jam perjalanan dari Bandung. Salah satu rutenya adalah melewati jalur selatan yaitu Nagreg – Garut – Ciamis – Banjar – Kabupaten Cilacap. Meski jarak sebenarnya tidak terlalu jauh, akses jalan yang menghubungkan kedua kota ini banyak yang berlubang sehingga pengendara mobil harus berhati-hati memilih jalan. Saat ini sudah banyak jasa travel dari Bandung yang melayani tujuan ke Cilacap secara door to door alias diantar sampai ke tujuan. Pilihan angkutan umum lainnya adalah bus dan kereta tujuan Bandung-Jogjakarta atau Surabaya yang berangkat dari stasiun Kiara Condong. Selamat berlibur ke Cilacap! (RY)

Tags : Kuliner, Bandung, Bandungreview, Liburan, Belanda, BRDC, Pantai, Ciamis, Seafood, Garut, Plesiran, Travelling, Alcatraz, Bahari, Benteng Pendhem, Banjar, Cilacap, Nusakambangan, Nagreg, Pasir Besi, Plesiran: Bandung - Cilacap, Teluk Penyu, Travelling: Bandung - Cilacap
Belum ada komentar, mau menjadi yang pertama? Silahkan isi komentar Anda.
    SOCIAL MENU
    SEARCH
HOT PICK
    • Harris Hotel
      4 Star Hotel
      Alamat : Jl. Peta No. 241
      Telepon : (022)6128600